Ada Klik,Ada Duit,MAU?Gabung Dengan KumpulBlogger.com

Hilangnya "Poppy Flowers" Jadi Skandal Memalukan di Mesir



Sejak kasus pencurian lukisan karya Van Gogh dari Museum Mahmud Khalil di Kairo, Menteri Kebudayaan Mesir Farouk Husni menjadi bulan-bulanan para politisi dan media massa Mesir. Mereka mengecam Husni yang dianggap tidak becus mengelola keamanan museum dan mendesak agar pemerintah memecat Husni atau Husni sendiri yang harus mengundurkan diri untuk menebus kelalaiannya.

Lukisan berjudul "Poppy Flowers" senilai 55 juta dollar, karya pelukis legendaris Belanda, Van Gogh yang terjadi pada Sabtu pekan kemarin, menggegerkan dan mempermalukan para pejabat museum karena pencurian dilakukan di "di tengah hari bolong." Pencurinya yang diduga lebih dari satu orang memotong dan mengeluarkan lukisan tersebut dari framenya. Mereka leluasa melakukan aksinya karena alarm anti pencurian tidak berbunyi dan para petugas keamanan museum sedang keluar untuk salat.

Jaksa penuntut umum Mesir Abdel Meguid Mahmud dalam keterangannya soal kasus pencurian itu mengatakan, dari 43 kamera pengintai yang dipasang di dalam museum hanya 7 kamera yang berfungsi. Begitu pula dengan alarm pengaman di museum itu, tak satupun yang berfungsi saat pencurian terjadi.

Menteri Kebudayaan Mesir yang membawahi semua museum yang ada di Mesir, tak pelak menjadi sasaran "tembak" para politisi dan media massa saat berita pencurian ini tersebar luas. Sekina Fuad, kolomnis Mesir dari harian oposisi Dostorsaid mengatakan bahwa semua menteri kabinet harus dipecat karena pencurian itu merupakan skandal terbesar pemerintah Mesir yang mengklaim bertanggung jawab melindungi "harta karun" Mesir.

Kecaman yang bertubi-tubi dari media serta para politisi Mesir membuat Husni tertekan dan nyaris purtus asa. Ia menyatakan akan menerima jika dipecat. "Pemecatan mungkin akan melindungi saya dari bencana yang lebih besar. Itu akan menjadi pembebasan buat saya," kata Husni dalam sebuah wawancara.

Husni mengungkapkan kekecewaannya terhadap media yang terkesan membebankan semua kesalahan pada dirinya. "Media memperlakukan saya seperti seekor sapi yang sudah jatuh dan banyak pisau yang siap membantai sapi itu. Tapi saya bukan sapi dan saya tidak akan jatuh," tukas Husni.

Menyusul kasus pencurian lukisan itu, Husni menonaktifkan Direktur Bagian Seni Rupa Museum Al-Khalil, Mohsen Shaalan dan 13 pegawai museum lainnya sampai polisi Mesir selesai melakukan penyelidikan. Atas pemecatan itu, Shaalan mengatakan bahwa dirinya telah dijadikan "kambing hitam" oleh kementerian kebudayaan dalam kasus ini. Menurut Shaalan, ia pernah menyampaikan persoalan kamera dan alarm di Museum Mahmud Khalil pada kementerian kebudayaan. Tapi ketika itu kementerian mengatakan sedang tidak punya dana.

Pernyataan Shaalan bertolak belakang dengan keterangan Menteri Kebudayaan. Dalam wawancara tersebut, Husni mengungkapkan bahwa Shalaan memang pernah meminta dana sebesar 40 juta pon untuk keperluan sistem pengamanan di 15 museum, tapi tidak termasuk museum Mahmud Khalil.

Ia juga mengatakan bahwa kementerian kebudayaan sudah mendistribusikan dana sebesar 29 juta pon lebih untuk pengembangan dan restorasi di Museum Mahmud Khalil dan museum lainnya sejak bulan Februari 2009. Tapi Shaalan, kata Husni, ternyata tidak menggunakan dana itu dengan semestinya. Terbukti sistem keamanan berupa kamera dan alarm tidak berfungsi saat pencurian terjadi di Museum Mahmud Khalil.

Husni menyatakan bahwa ia sudah membentuk sebuah komite yang akan mengkaji ulang sistem keamanan di museum-museum. "Skandalnya bukan hilangnya lukisan itu tapi bagaimana lukisan itu bisa dicuri," ujar Menteri Kebudayaan Mesir itu seraya mengatakan bahwa museum-museum di negara-negara maju saja pernah mengalami kasus pencurian barang-barang berharga museum.

"Perancis pernah kecurian dan sejumlah lukisan karya Picasso hilang beberapa bulan yang lalu. Begitu pula museum di Italia, Amerika dan Jepang," tukasnya.

Husni yang berlatar belakang pelukis dan kini berusia 72 tahun, sudah menjadi Menteri Kebudayaan Mesir selama 23 tahun. Ia merupakan menteri yang paling lama menjabat dan kerap menjadi kontroversi di Mesir. Tak heran jika ia merasa "terbiasa" menghadapi kecaman. "Saya sudah sering jadi bagian banyak 'bencana' yang bahkan membuat saya hampir bunuh diri," imbuh Husni.

Salah satu peristiwa yang paling menggegerkan terjadi lima tahun lalu, ketika terjadi kebakaran saat pertunjukan kebudayaan amatir di teater Beni Suaif milik pemerintah. Insiden kebakaran itu menewaskan 46 orang karena desak-desakan dan terjebak dalam sebuah ruangan.

Menurut Husni, lukisan Poppy Flowers pernah hilang di akhir tahun 1970-an tapi berhasil ditemukan lagi di restorasi beberapa tahun kemudian. Ia sudah menghubungi Interpol dan sejumlah galeri atas hilangnya kembali si Poppy Flowers dan berharap lukisan itu segera ditemukan.

Sementara, media lokal di Mesir hari Kamis kemarin memberitakan bahwa konglomerat Mesir, Naguib Sawiris menawarkan hadian satu juta pon bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi akurat soal keberadaan lukisan tersebut. (ln/mol)


sumber

0 komentar:

Post a Comment

Followers

KOMENTAR TERBARU

TOP KOMENTATOR

ARTIKEL POPULAR

PageRank Personal (Blogs) - TOP.ORG The Republic of Indonesian Blogger | Garuda di Dadaku

  ©** - Unik,Aneh,Lucu,Teknologi,Komputer Admin By Cah Yoman

Template by Dicas Blogger | Topo